"Inilah induk orangutan Sumatera yang tubuhnya luka parah krn benda tajam dan ada 74 peluru senapan angin ditubuhnya Anak orangutan berumur 1 bulan akhirnys mati dalam perjalanan evakuasi karena kekurangan nutrisi berat dan trauma berat Sungguh biadab orang yang menyiksanya," demikian cuplikan cuitan dari keterangan foto yang ia unggah
"Gk punya perasaan tu manusia laknat tega"nya nembakin SMPK segitu banyaknyagk punya hati nurani," balas salah satu warganet
Dikutip The News Minute, perilaku menyiksa hewan ternyata bisa merupakan tanda masalah kesehatan mental yang bermasalah dan diikuti dengan perilaku penyiksaan
"Ketika orang kejam pada hewan-hewan, itu artinya mereka tidak punya empati," kata Dr Jayanthini, Psikiatris dari Chennai
"Umumnya ketika kamu mendapatkan kasus anak yang menunjukkan perilaku agresif, kami mencoba untuk memastikan apakan dia juga kejam pada hewan, terlepas dari orang lain Jika dia tidak melakukannya, ada kemungkinan empati di sana," tambahnya
Semaentara itu, Dr Thara, Direktur Yayasan Penelitian Schizophrenia di Chennai menjelaskan ada dua hal yang bisa jadi kemungkinan alasannya
"Kekejaman terhadap hewan adalah manifestasi dari dua hal - keinginan untuk memiliki kendali atas makhluk yang lebih lemah dan lebih kecil dan kecenderungan untuk mendapatkan kesenangan sadis darinya," tuturnya
American Psychiatric Association mengklasifikasikan kekejaman terhadap hewan sebagai salah satu indikator gangguan perilaku Sederhananya, perilaku gangguan merujuk untuk kegigihan perilaku seperti mencuri, berbohong atau perilaku agresif atau destruktif
Jika kamu menemukan diri sendiri atau orang lain mendapatkan kesenangan dari usaha menyakiti hewan, ada baiknya untuk mendapatkan bantuan dari tenaga ahli untuk berkonsultasi lebih lanjut (ask/up)